
Ayuningtyas Widari Ramdhaniar dikenal sebagai Woman Social Entrepreneur sekaligus Public Facilitator.
Hari itu, saya berkesempatan ngobrol dengan wanita cantik nan supel ini.
Tyas, demikian ia biasa disapa, mengaku berasal dari keluarga sederhana.
Orangtuanya tidak pernah memanjakan, namun mengajarkan nilai-nilai hidup yang membentuknya menjadi perempuan tangguh, istimewa dan memiliki empati bagi sesama.
Tyas menyelesaikan studinya dari Universitas Indonesia.
Tahun 2005 diterima di D3 Administrasi Perkantoran & Sekretaris FISIP UI (saat ini namanya Vokasi UI).
Selanjutnya tahun 2008 diterima S1 UI jurusan Administrasi Negara.
“Sejak kuliah S1 saya sambil bekerja.
Pokoknya setiap ada kesempatan untuk upgrade diri, saya pasti ambil, gak pernah berpikir berapa gajinya atau digaji apa tidak, prinsip saya adalah saat itu harus memiliki pengalaman yang lebih dan wawasan yang lebih luas dari teman seusia,” terangnya.
Tahun 2012, Tyas membangun bisnis Event Organizer dengan nama Venustar. Sambil membangun bisnis, tahun 2016, ia memutuskan melanjutkan kuliah S2 Kesejahteraan Sosial dengan penjurusan Otonomi Daerah.
“Karena sejak kecil, passion saya juga di dunia politik,” terangnya.
Segudang pengalaman kerja telah dilakoni Tyas.
Itu membentuknya menjadi pribadi yang supel, cekatan dan mampu beradaptasi dengan segala medan.
Sejak tahun 2021, Tyas bekerja di Diesel One Group sebagai Corporate Secretary yang membawahi corporate branding, CSR, dan Government Relation.
Meski begitu, Tyas lebih senang disebut sebagai Public Fasilitator.
“Sebutan yang belum pernah ada di Indonesia dan mentor saya pejabat di Malaysia memberikan masukan daripada menggunakan kata “social” yang lebih berkonotasi negatif baiknya gunakan “public facilitator”,” jelas Tyas.
“Ya dari dulu saya suka memfasilitasi siapapun untuk menuju akses yang semestinya mereka dapatkan, baik itu akses informasi, maupun akses untuk mencapai hal yang mereka inginkan.
Misalnya, sejak tahun 2018 saya memfasilitasi Kabupaten Kuningan mendapatkan 30 anak beasiswa dari Kemenristek, lalu ambulance, kemudian saya juga memfasilitasi pemberian pupuk bersubsidi, pemberian bibit pohon, 150 titik penerangan jalan umum berbasis energi terbarukan, 4 motor sampah, atau orang dari daerah mau bertemu pejabat yang kiranya dapat mendengar suara masyarakat di daerahnya untuk menyampaikan suara kebutuhan dari bawah, saya memfasilitasi hal tersebut pula.
Menyambungkan antara satu dengan yang lainnya sehingga terbentuknya kolaborasi yang inklusif untuk mencapai tujuan bersama.
Karena kolaborasi itu kuncinya memberi dan menerima ide baru, hal-hal kreatif dan untuk saling tumbuh bersama kuncinya adalah saling percaya dan sadar sesuai tupoksinya masing-masing sehingga apa yang akan dicapai akan lebih terakselerasi,” sambungnya.
Kepedulian Tyas terhadap sesama dibentuk sejak masih kecil dari sang bunda.
“Sejak kecil, ibu mendidik kami dengan keras.
Kata ibu yang paling harus dibentuk dari diri seseorang adalah mentalnya yang kuat.
Kita itu gak bisa hanya sekedar simpati pada seseorang tapi harus empati dan ibu benar-benar mencontohkannya,” tuturnya.
Ada banyak pengalaman berkesan yang dialami Tyas, saat menolong sesama.
“Saya banyak belajar dari mereka. Ada yang kuliah jalan kaki IPK nya 4, dia perempuan dan ibunya buruh cuci.
Saya membantu dia menggunakan dana pribadi.
Saya yakin bahwa menyekolahkan anak itu berarti membangun Bangsa apalagi perempuan sebagai tiang negara.
Kelak perempuan akan membangun keluarga dan mendidik anak-anak mereka, jika perempuan diberikan akses yang lebih luas terhadap semua hal maka masa depan Bangsa ini lebih baik lagi,” jelasnya.
Dengan segudang prestasi yang dicapainya, Tyas mengaku keluarga adalah segalanya dalam hidup.
“Keluarga adalah alasan saya melakukan semua hal yang baik, karena saat belum memiliki anak, apapun yang saya lakukan tanggung jawab saya pribadi.
Namun saat ada anak, cara berpikir saya lebih luas, lebih bijaksana, dan belajar memaafkan diri sendiri juga orang lain.
Saya ingin bisa meninggalkan legacy yang baik pada anak-anak saya bahwa hidup bukan hanya sekadar memiliki ini dan itu, namun hidup soal memberi apa yang bisa kita berikan, pikiran, tenaga, motivasi dan semangat pada orang lain, sehingga hidup kita bermakna untuk keluarga, masyarakat, Bangsa, dan Negara.
Jadi saya mau anak saya bisa bangga menyebut “Itu memo aku loh”,” katanya.
Lalu apa mimpi Tyas yang belum terwujud?
“Banyak banget.
Saya pengen banget kuliah double degree Hukum, terus mau kuliah S3 Kebijakan Publik di UI.
Saya juga ingin banget bisa lancar bisnisnya biar saya bisa membesarkan yayasan dan punya kantor sendiri, sehingga bisa memberikan dampak positif untuk banyak orang sebagai public facilitator tanpa ada intervensi dari orang lain.
Saya juga mau bisa memfasilitasi akademisi-akademisi untuk membawa nama AWR Foundation ke dunia untuk workshop atau apapun itu, seperti layaknya United Nation.
Pokoknya segala sesuatu untuk bisa berdampak besar pada masyarakat dengan membahagiakan orang lain khususnya dibidang pendidikan formal dan nonformal. Baik beasiswa, advokasi, literasi, dan seni budaya juga olah raga,” tukasnya.
Harapan Tyas ke depan agar bisa memperbesar kapasitasnya agar memiliki kemampuan yang lebih lagi secara akademis, mental, dan pengalaman.
“Setiap hari bisa belajar lebih baik lagi, sehingga saya bisa hidup lebih bermanfaat untuk banyak orang dan dipercaya oleh orang-orang di luar sana sebagai mitra mereka dalam menjalankan tujuan bersama.
Kelak suatu hari bisa mewakili Indonesia ke ajang internasional untuk forum-forum tertentu,” pungkasnya.
