
Ayuningtyas Widari Ramdhaniar sebagai perempuan muda yang kerap mengkampanyekan Sustainable Development Goals (SDGs)/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di media sosialnya.
Bahkan ia sekaligus memastikan bahwa kegiatan komunitas dan yayasannya yang ia pegang harus beririsan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals 2030).
Saat ini, wanita yang akrab disapa Tyas ini adalah Corporate Secretary Diesel One Group dan Managing Director Diesel One Solidarity.
Sebelumnya ia merupakan Tenaga Ahli DPR RI 2015-2019 juga Manager Marketing Putri Duyung Ancol, serta pernah bekerja di PT Antam Tbk., serta PT Elnusa Tbk. Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang energi membuat ia tertarik pada dunia energi baru terbarukan.
Dalam pandangan Tyas, saat ini akses energi masih menjadi salah satu tantangan di Indonesia namun lebih menunjukkan komitmen ke arah yang lebih baik.
Dibuktikan dengan nama event kegiatan tersebut bukan lagi “clean energy” tapi menjadi “energy transition”.
“Karena meski energi bukan merupakan kebutuhan dasar manusia, namun manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa energi, karena energi sangat penting untuk memenuhi berbagai kebututan dasar tersebut.
Kekurangan akses terhadap jasa energi yang beraneka ragam dan terjangkau artinya kebutuhan dasar dari banyak orang tidak terpenuhi.
Sehingga semua masyarakat sebagai pengguna energi harus memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ketahanan energi Nasional,” terangnya.
Diakui Tyas, keberadaan subsidi untuk bahan bakar fosil menyebabkan harga beli dari energi-energi yang tergolong energi terbarukan menjadi tidak terjangkau.
“Karena meski energi bukan merupakan kebutuhan dasar manusia, namun manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa energi, karena energi sangat penting untuk memenuhi berbagai kebututan dasar tersebut.

Kekurangan akses terhadap jasa energi yang beraneka ragam dan terjangkau artinya kebutuhan dasar dari banyak orang tidak terpenuhi.
Sehingga semua masyarakat sebagai pengguna energi harus memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ketahanan energi Nasional,” terangnya.
Diakui Tyas, keberadaan subsidi untuk bahan bakar fosil menyebabkan harga beli dari energi-energi yang tergolong energi terbarukan menjadi tidak terjangkau.
“Karena meski energi bukan merupakan kebutuhan dasar manusia, namun manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa energi, karena energi sangat penting untuk memenuhi berbagai kebututan dasar tersebut.
Kekurangan akses terhadap jasa energi yang beraneka ragam dan terjangkau artinya kebutuhan dasar dari banyak orang tidak terpenuhi.
Sehingga semua masyarakat sebagai pengguna energi harus memiliki tanggung jawab dalam menciptakan ketahanan energi Nasional,” terangnya.
Diakui Tyas, keberadaan subsidi untuk bahan bakar fosil menyebabkan harga beli dari energi-energi yang tergolong energi terbarukan menjadi tidak terjangkau.
