Nukila: Praktik Perdagangan Manusia & Narkotika Sasar Pekerja Migran Perempuan

Nukila Evanty, Direktur Eksekutif Women Working Group (WWG) yang dalam tiga tahun belakangan ini sangat intens dalam mengadvokasi perlindungan pekerja migran perempuan telah mengadakan kegiatan dengan tema “Workshop sadar hukum bagi pekerja migran dari jebakan perdagangan orang dan perdagangan narkotika” pada tanggal 16 Februari 2023 di Sambas Kalimantan Barat.

Menurut Nukila, kegiatan workshop ini berkolaborasi dengan BP3MI Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kegiatan ini menurut Nukila diperuntukkan khusus buat calon pekerja migran Indonesia yang ditraining diantaranya dengan materi sistem hukum dinegara tujuan pekerja migran, seperti di Malaysia dan agar pekerja migran lebih mengenali kejahatan human trafficking dan drug trafficking bahkan memahami kontrak kerja dan tak sekedar menandatangani kontrak serta mengetahui juga support system dan pertolongan pertama jika pekerja migran kita menjadi korban. Acara dihadiri juga oleh kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kepolisian Resort Sambas serta dari LSM di Sambas, Artinya penuh dengan kolaborasi. Acara ini dihadiri oleh 25 peserta calon pekerja migran.

Tantangan masih didepan mata, mungkin perlu konsistensi dalam pencegahan dan  penanganan hukum bagi pekerja migran karena semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi pekerja migran terutama perempuan. Nukila menyebutkan bahwa semua pihak harus terlibat bahkan mulai dari masyarakat sipil, BP3MI dengan konsistensi program pencegahan untuk tujuan perlindungan, mengaktifkan komunikasi dengan konsuler (KJRI) di negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, petugas imigrasi di perbatasan bahkan untuk pemulangan pekerja migran kita harus dipastikan memadai .Karena mata rantai perdagangan manusia ini telah melibatkan sindikat yang begitu rapinya dan cell terputus sehingga rumit menahan master mind atau pimpinan sindikat sesungguhnya dari perdagangan manusia.

Pada akhir workshop diberikan pemberian sertifikat kepada peserta.Nukila berpesan bahwa para pekerja migran perempuan ini menjadi champion (juara) dan agent of change untuk membantu teman-temannya nanti di tempat tujuan mereka di Malaysia.

Acara ini didukung oleh GITOC (The Global Initiative Against Transnational Organized Crime) dan  Resilience Fund suatu lembaga yang berpusat di Geneva, Swiss yang sangat concern dalam penghapusan  kejahatan yang bersifat lintas batas negara dan kejahatan terorganisir seperti perdagangan orang.(lwu)

Published by Ayuningtias | Lobbyist - Networker - Facilitator

Woman With Voices

Leave a comment