
Untuk generasi muda Indonesia:
Elwin Tobing, Irvine, Amerika Serikat*
Penyelenggaraan dan kelangsungan kehidupan suatu negara tidak jarang dituntun oleh preseden. Ketika George Washington, pemimpin AS paling popular, disegani, dan dihormati pada jamannya dan kemudian sepanjang sejarah AS, memutuskan pulang ke perkebunannya dan kembali menjadi petani, profesi yang menurutnya paling mulia, Washington menciptakan suatu preseden.
George Washington tidak bersedia menjadi presiden untuk periode selanjutnya. Dia memilih berkuasa hanya dua periode. Itu menjadi preseden dalam sejarah AS, yang diikuti kemudian oleh 43 presiden AS berikutnya. Menjadi tradisi.
Hanya satu orang yang melanggarnya, Franklin Roosevelt di tahun 1940 ketika maju untuk tiga periode. Alasannya, kekuasaan Nazi di Eropa. Roosevelt menilai hanya dirinya yang siap di AS memimpin melawan kekuatan Nazi Hitler yang mau menguasai Eropa dan dunia.
Tradisi yang diciptakan oleh Washington tersebut malah cenderung lebih kuat daripada konstitusi tertulis. Ini yang dinamakan aksi lebih kuat daripada teori. Konstitusi justru tidak jarang mendapat interpretasi yang berbeda-beda.
Misalnya, pasal di Konstitusi AS yang mengatakan bahwa presiden harus warga Amerika alamiah (natural birth clause). Tetapi dalam prosesnya kemudian, interpretasi muncul bagaimana kalau satu orang atau kedua orang tua bukan warga Amerika. Atau yang bersangkutan lahir di luar wilayah AS tetapi kedua orang tuanya warga AS. Dan berbagai hal terkait.
Preseden yang ditinggalkan oleh Presiden Washington mencegah Amerika jatuh pada kekuasaan diktator, apalagi diktator tunggal. Atau mencegahnya sehingga tidak dikuasai suatu rejim yang bertahan relatif permanen.
Preseden yang diciptakan Soekarno, yang berkuasa lebih 20 tahun atau pun rencana seumur hidup, mungkin menjadi inspirasi Soeharto untuk melakukan hal yang sama. Soeharto berkuasa 30 tahun ataupun rencana seumur hidup.
Tragisnya, kedua berakhir dengan kerusuhan Indonesia. Dan NKRI mengalami kemunduran. Dalam kasus terakhir, secara sosial ekonomi, impak kemunduran tersebut terasa satu atau lebih generasi. Misalnya, dari indikator ekonomi, apabila trajektori pertumbuhan sebelum masa krisis tahun 1998 berlanjut terus, pendapatan per kapita Indonesia sudah lebih dua kali lipat dari sekarang, 25 tahun setelah krisis tersebut.
Juga tragisnya, keduanya jadi meninggalkan catatan sejarah kontroversial.
Era Reformasi tahun 1999 lahir sebagai jawaban terhadap kegagalan preseden kekuasaan yang cenderung sudah mutlak tersebut. Itu sebabnya salah satu keputusan penting yang diambil adalah pembatasan jabatan presiden maksimal dua periode.
TERSIRAT VS TERSURAT
Apa yang tersirat dari pembatasan hanya dua periode tersebut jauh lebih dalam (profound) daripada yang tersurat.
Seperti adagium populer mengatakan, kekuasaan itu cenderung korupsi. Dan kekuasaan yang mutlak atau permanen betul-betul korupsi 100%. Korupsi tidak hanya soal uang, tetapi soal aturan dan peraturan (rules of laws). Hal yang pertama dikebiri oleh kekuasaan yang korupsi adalah peraturan. Peraturan menjadi dirinya. Dan dirinya menjadi peraturan.
Yang kedua, kekuasaan yang relatif permanen akan menciptakan struktur dan perlengkapan (institusi maupun orang-orang) yang akan cenderung mempertahankan kekuasaan tersebut. Jadi selain akan korupsi, motif pertama-tama adalah bagaimana melanggengkan kekuasaan, bukan lagi memajukan kepentingan umum. Secara historis hal ini sudah terjadi di berbagai negara dan di berbagai waktu, termasuk di Kuba, Venezuela, Zimbabwe, Rumania, Filipina, Mesir, Indonesia, dan berbagai negara lainnya.
Itu sebabnya di AS, seorang presiden yang sudah habis jabatannya (sudah dua periode) tidak mempersiapkan lalu kemudian kampanye dengan menggunakan perlengkapan (apparatus) terkait jabatannya untuk memajukan penerusnya. Atau baik secara langsung maupun proksi, tidak menyusun kekuatan secara terencana dan tertata untuk mempengaruhi siapa yang akan menjadi penerusnya.
Mengacu pada contoh kontemporer, meski Ronald Reagan menyatakan dukungan kepada wakilnya, George H Bush, menjadi kandidat presiden dari Partai Republik tahun 1988, dalam pemilihan umum melawan kandidat dari Partai Demokrat, Reagan, yang berkuasa dua periode, tidak menggerakkan perlengkapan pemerintahan federal, secara institusional dan personel, untuk mendukung pemenangan H Bush.
Hal yang sama terjadi George W Bush yang tidak mempersiapkan penerusnya tahun 2008 dan kemudian Obama tahun 2016.
Ada dasarnya. Perlengkapan pemerintahan federal bukan ditujukan pertama-tama untuk melanggengkan kekuasaan suatu kekuatan. Dan itu sudah menjadi semacam tradisi yang dibangun oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Suatu preseden yang kemudian diadopsi menjadi suatu sistim nilai, termasuk dalam merebut maupun mempertahankan kekuasaan.
BUSHIES DAN ADAMS
Ada dua dalam sejarah AS dimana ayah dan anak pernah menjadi presiden. Pertama, John Adams. Presiden kedua AS, Adams menjabat dari tahun 1797-1801. Anaknya, John Quincy Adams, presiden keenam AS, menjabat dari tahun 1825-1829, 24 tahun setelah ayahnya.
John Quincy Adams sudah melanglang buana secara professional dan dalam kehidupan politik pemerintahan. Pernah menjabat duta besar pertama AS ke Rusia dan juga menteri pertahanan AS. Lulusan terbaik kedua di Harvard, tanpa pengaruh ayahnya pun, John Quincy Adams akan menjadi figur besar dalam pemerintahan AS. Ayahnya sudah digantikan tiga presiden sebelumnya.
George H Bush presiden ke-41 AS dari tahun 1998-1992. Selang 12 tahun kemudian, anaknya George W Bush menjadi presiden dari tahun 2000-2008. Bush junior adalah gubernur negara bagian Texas sebelum menjadi presiden tahun 2000.
Tetapi catatan penting adalah Bush senior sudah 12 tahun tidak menjadi presiden dan Bush junior bukan menduduki posisi di pemerintahan negara bagian ataupun federal ketika ayahnya masih menjabat presiden. Artinya, Bush senior tidak menggunakan perlengkapan pemerintahan federal, baik secara langsung maupun proksi, menjadikan W Bush menjadi gubernur atau presiden.
Betul bahwa kemudian tim pemenangan W Bush dalam pilpres dipenuhi orang-orang Bush senior, yang kemudian menjadi tim inti di pemerintahannya. Dick Cheney adalah menteri pertahanan dan Colin Powel panglima militer dalam pemerintahan Bush senior. Masing-masing kemudian menjadi wakil presiden dan menteri pertahanan dalam pemerintahan Bush junior. Dan ini juga menjadi kontroversi yang dianggap berbuah tidak baik dalam pemerintahan AS, termasuk keduanya tokoh yang menggiring AS perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Saat yang sama Clinton kemudian mencoba melakukan hal yang sama. Politik dinasti atau politik kekuasaan yang relatif permanen. Situasi ini dengan mudah menggiring pada politik kekuasaan yang berpusat pada elit. Politik kekuasaan yang relatif permanen ini lebih subur di Kongres dan Senat karena tidak adanya pembatasan jabatan dalam kedua institusi tersebut.
Tidak mengherankan apabila kehidupan ekonomi politik di AS yang ditentukan dan dikuasai oleh kekuasaan elit politik dan ekonomi AS berkembang pesat dalam tiga dekade ini. Ini mempopulerkan kembali istilah ruling class yang merujuk pada suatu kelas sosial yang menyusun dan memutuskan agenda ekonomi dan politik masyarakat dan bangsa AS, yang sering lebih menguntungkan kaum elit (ruling class) tersebut.
Munculnya Trump sebagai fenomena baru dalam kehidupan politik di AS tidak lepas daripada kekecewaan masyarakat AS yang menganggap kehidupan mereka dikontrol segelintir elit politik, pemerintahan, dan ekonomi yang cenderung hanya berpikir pada kepentingan kaum elit mereka.
MERAWAT PRESEDEN
Dalam kehidupan sehari-hari dikenal adanya tata krama, mulai dari bersikap sopan dan respek terhadap orang tua sampai tidak mencuri hak milik orang lain. Anak diajarin tata krama. Sering tidak tertulis, tetapi sudah tersirat.
Ajaran agama dengan penekanannya pada tuntunan etika dan moral kehidupan sejauh tertentu juga dibangun oleh suatu tradisi atau revolusi terhadap suatu tradisi tertentu yang kemudian menjadi langgeng karena dianggap baik oleh pengikutnya.
Kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga mengenal tata krama. Juga dalam kehidupan politik kekuasaan, apakah itu menyangkut penyelenggaraan ataupun perebutan kekuasaan. Tanpa tata krama, sulit membangun tradisi yang baik. Dan tanpa tradisi yang baik, sulit membangun suatu bangsa menjadi besar.
Kehidupan sosial politik dan kekuasaan sehari-sehari harus dituntun oleh preseden yang baik dan menghindarkan preseden buruk. Seperti pengalaman Indonesia sebelumnya, mengulangi preseden buruk akhirnya berakibat buruk.
Jangan sampai Indonesia jatuh kelubang yang sama tiga kali. Seperti kata pepatah “Tertipu sekali, tercela lah sang penipu. Tertipu dua kali, tercelah lah saya.” Tertipu tiga kali, mungkin kita benar-benar bodoh.
- Elwin Tobing, ekonom di AS. Penulis buku “Indonesian Dream: Revitalisasi dan Realisasi Pancasila sebagai Cita-cita Bangsa” (2018) dan yang akan terbit “Agenda Transformasi Indonesia”.
** Misalnya, pasal di Konstitusi AS yang mengatakan bahwa presiden harus warga Amerika alamiah (natural birth clause). Tetapi dalam prosesnya kemudian, interpretasi muncul bagaimana kalau satu orang atau kedua orang tua bukan warga Amerika. Atau yang bersangkutan lahir di luar wilayah AS tetapi kedua orang tuanya warga AS. Dan berbagai hal terkait.
